Saat 5 Senior Ngobrol Bola

Lima orang berpengalaman dalam sepakbola bertemu saat pagelaran Piala Dunia U-20 digelar di Turki Juli lalu. Mereka berdiskusi asyik dalam seminar yang diinisiasi FIFA.com untuk melihat lebih dalam apa yang tersaji di Istanbul itu.
 
Lima pelatih itu legenda Peru, Teofilo Cubillas, figur penting dalam mantan pemain dan pelatih asal Kolombia, Francisco Maturana, pelatih asal Argentina Gabriel Calderon, Gines Melendez, dari koordinator timnas di Federasi Sepakbola Spanyol (RFEF), dan mantan direktur Akademi Nasional Kepelatihan Spanyol, Mariano Moreno.
 
Beragam topik jadi bahan pembahasan mereka. Dari formasi yang paling laku dipakai tim-tim di Piala Dunia U-20, dan tantangan pelatih dewasa ini.
 
Saat fokus para pembicara tertuju pada pembahasan formasi 4-2-3-1. Calderon langsung angkat suara."Saya sudah pakai sistem itu selama sembilan tahun. Menurut saya ini salah satu formasi terbaik karena membuat kita memiliki lima atau enam pemain saat menyerang, dan bertahan dengan pemain hingga delapan orang. Ini menimbulkan keseimbangan antara bertahan dan menyerang," kata Calderon, seperti dikutip FIFA.
 
"Ini sebuah sistem fleksibel," timpal Maturana. Cubillas dan Melendez mengangguk-angguk mendengar omongan Maturana.
 
Maturana menukangi Kolombia saat di Piala Dunia 1994 melanjutkan."Anda bisa mengubahnya ke 4-1-4-1 atau 4-3-3 saat pertandingan. Itu tergantung cara gelandang dalam permainan sayap.
 
Semakin bermain melebar, semakin sedikit area untuk full-back bermain ke depan. Terutama apabila ada pemain seperti Robben dan Ribery di Bayern Munich, itu akan memberikan fleksibilitas dan membuat full back menangkap kelemahan pertahanan.
 
Melendez lalu memberi catatan soal formasi ini."Problemnya dengan formasi ini adalah ketika bermain dengan dua pemain depan. Mereka akan sering bermain satu lawan satu dengan gelandang tengah, padahal di situ sistem terbaik untuk menyerang zona pertahanan. Untuk menjaga pemain No10 pemain lawan harus menekan gelandang ke belakang atau menggiring bek tengah lebih ke depan, untuk menciptakan ruang untuk pemain lain."
 
Di luar itu, Maturana lalu mengungkapkan hasil observasinya, bahwa apapun formasinya, pemainlah yang memegang kunci sebuah sistem berjalan benar. Setiap pemain menjadi sendi pemain lain di sekeliling mereka. "Lihat saja Real Madrid. Apa yang dilakukan Sami Khedira bila tidak ada Xavi
Alonso di belakangnya? Siapa teman mu, itulah yang membawa insting tentang apa yang akan kamu lakukan," ulasnya.
 
"Sistem sendiri tidak karena membawa kemenangan, dan pemain hanya bermain bagus ketika tim bermain bagus," ujar Calderon menyetujui."Lionel Messi memberikan contoh bagus saat empat tahun lalu, ketika dia bermain bagus untuk Barcelona tapi berbeda saat di Argentina. Tapi timnas Argentina bermain lebih bagus sekarang, dan permainannya juga semakin mengkilat," ujarnya.
 
Yang tak kalah menarik dalam diskusi para pakar itu adalah pandangan mereka tentang bakat Eropa dan Amerika Selatan. Mereka sama-sama merujuk pada fakta bahwa beberapa pemain terbaik dunia terakhir datang dari Latin. Saat Piala Dunia U-20 itu mereka sama-sama mengagumi striker Kolombia, Juan Quintero yang dinilai sebagai bintang masa depan, kreativitasnya merancang permainan.
 
Soal perbedaan pemain Eropa dan Amerika Latin, Calderon punya pandangan mendalam." Ini ada kaitannya dengan pendidikan yang mereka lalui. Kebanyakan mereka main di jalanan, tidak seperti di
Eropa, di mana tradisinya akademi sepakbola."
 
Maturana memberikan label untuk pemain-pemain Eropa sebagai pemain "laboratorium", pasalnya mereka seperti diprogram untuk bermain. Sementara di Amerika Selatan, mereka berkembang di jalanan, menghindar di antara mobil-mobil, berusaha agar bola tidak masuk ke dalam kolong bus. Jalanan mencetak pemain yang inventif. Itu membangun sistem imun pemain.
 
"Masalah pemain binaan akademi dalam pandangan saya adalah kurangnya kompetisi," sambung Melendez."Biasanya pemain melewati satu training sesi ke sesi training berikut dan pemain belajar berkompetisi dengan bermain di pertandingan serius."
 
"Organisasi di Eropa sangat bagus tapi mereka harus waspada. Sistem akademi bekerja selama kamu memberikan 30 persen total kebebasan kepada para pemain.Ketika Eropa melakukan itu, itulah saatnya Pemain Amerika Latin lebih sedikit dibutuhkan," ujar Calderon tertawa."Tapi kita tidak bisa memukul rata. Ada Xavi dan Iniesta, dan dua-duanya produk akademi."
 
Menyinggung soal Spanyol, mereka sepakat bahwa meski kalah dari Brasil di Piala Konfederasi 2013, bukan berarti masa La Furia Roja sudah habis. Satu kali kekalahan bukan tolok ukur yang adil untuk menilai kekuatan sebuah tim.
 
Topik terakhir lumayan mencerahkan. Kita jadi tahu bahwa tugas pelatih saat ini tidak hanya mengurusi masalah taktik semata. Tapi lebih kompleks dari itu, bagi para pelatih yang sudah masuk usia kepala lima itu.
 
"Dunia sudah berubah dan para pemain juga," kata Maturana."Dulu kita bisa bilang ke pemain untuk mendorong pemain lawan supaya bermain melebar, dan mereka melakukannya. Sekarang, mereka akan bertanya, 'untuk apa?', dan pelatih harus siap dengan jawaban."
 
Cubillas menambahkan."Menjadi pelatih lebih mudah di jaman dulu. Ketika kamu berhenti bermain, larinya pasti masuk dunia kepelatihan, menggambarkan apa yang kamu pelajari semasa jadi pemain. Sekarang lebih dari itu kebutuhannya. Bahkan kita harus jadi psikolog. Itu cara kamu bisa menangani 23 sampai 24 pemain muda."
 
"Kamu juga harus belajar teknologi," tambah Maturana." Di masa kami, kami duduk dan menyaksikan rekaman video pertandingan selama empat-lima jam, dengan mulut diam.Tapi coba bayangkan lakukan itu sekarang?! Kita harus membuat film yang lebih ringkas untuk mereka dan mengirimkannya ke ponsel mereka." Melendez ikut memberikan pandangan, pemain sekarang lebih berani mengutarakan pendapatnya terang-terangan saat di ruang ganti.(sumber:fifa.com)
(fit)


source : http://bola.okezone.com/read/2013/08/05/419/847776/saat-5-senior-ngobrol-bola