Cantik dan Empuk ala Zoysia Matrella

" Rumput tetangga sering terlihat lebih hijau." Kenyataannya, kadang-kadang sebaliknya. Begitu juga dengan rumput di lapangan Eropa yang terlihat lebih hijau. Meski bagus, bukan berarti bisa sama baiknya saat dipakai di Indonesia.

Jenis rumput di Eropa atau Australia yang dipakai untuk lapangan sepakbola, tidak cocok dipakai di Indonesia. Sebab, salah satu faktornya perbedaan cuaca. Rumputnya juga lebih tipis dan pertumbuhannya pun lebih lambat. Di Indonesia sendiri tersedia rumput yang bisa membuat lapangan sepakbola seperti beralas karpet, enak dipandang, sekaligus aman bagi atlet.

Zoysia matrella, namanya. Rumput jenis ini biasa ditemukan di area pantai karena media tanamnya pasir. Rumput inilah yang direkomendasikan FIFA untuk dipakai di negara tropis seperti di Indonesia. Kebetulan rumput ini tumbuh di wilayah Asia. Zoysia punya kasta paling tinggi untuk penggunaan di lapangan sepakbola. Karena itu, stadion-stadion besar menggunakan rumput ini.

Menurut Komisaris PT Dins Bangkit Mandiri, Dedhi Nurahman, awalnya rumput ini dibawa dari Filipina pada masa Orde Lama, saat Indonesia akan menggelar PON. Baru belakangan diketahui bahwa Zoysia sebenarnya banyak tumbuh di Indonesia.

Zoysia matrella sendiri, kata Dedhi, tak sulit perawatannya. Hal yang terpenting, dalam satu bulan misalnya, rumput disiram sehari sekali, kemudian diberi pupuk, dipangkas dua pekan sekali, dan sebaiknya dipakai untuk pertandingan saja.

"Kalau dipakai untuk latihan dan pertandingan pun sebenarnya masih bisa, asal ada jedanya. Itu untuk proses perawatan. Dalam sepekan lapangan harus diistirahatkan minimal tiga hari," jelas Dedhi, yang perusahaannya bergerak di bidang konsultan fasilitas olahraga.

Zoysia yang memakai media tanam pasir, juga membuat lapangan lebih empuk. Permukaan yang keras, menurut Dedhi, terjadi pada lapangan yang menggunakan media tanam tanah. " Kalau media tanamnya pasir tidak! Apalagi kalau tanaman itu, pengakarannya sesuai media tanam yang disebar," ujarnya. "Zoysia punya pengakaran tebal. Kalau media tanam 20 Cm pengakarannya 20 Cm juga, kalau semeter, pengakaran semeter juga."

Setelah Zoysia, kelas di bawahnya ialah rumput gajah. Lapangan-lapangan "kelas" kecamatan, disarankan memakai rumput ini karena mudah perawatannya dan murah Rp30 ribu-35 ribu per meter, sementara zoysia Rp70 ribu per meter.

"Lapangan sekelas ini saya sarankan pakai rumput gajah. Perawatan lebih mudah, pertumbuhan kuat, tapi pengakaran cuma di permukaan. Enggak disiram juga yang botak pelan-pelan, tumbuh lagi," kata Dedhi, yang ditemui saat mengawasi pembangunan stadion mini di Ciledug, Tangerang, pekan lalu.

"Di sini juga tadinya minta pakai Zoysia, tapi saya sarankan rumput gajah, yang biasa saja, karena untuk mengejar tenggat waktu proyek sesuai program dari pemerintahnya, tidak cukup. Zoysia butuh waktu enam bulan untuk penanaman sampai bisa dipakai. Di Stadion Bangka Belitung yang baru dibangun, itu pakai Zoysia, dibawa dari sini," jelas Dedhi sambil menunjuk ke arah lapangan yang berada di samping underpass Ciledug tersebut.

Bila dibawa ke luar daerah, pengiriman rumput Zoysia harus cepat. Setelah tiba di bandara tujuan, kata Dedhi, rumput harus segera disemai, agar bernapas, karena suhu di dalam kabin pesawat pengap bisa membuat rumput layu.

"Makanya biar sampainya tengah malam juga harus langsung dibawa ke stadion untuk disemai (digelar). Tiga atau empat hari, baru ditanam," kata Dedhi, yang memiliki nursery seluas 1.500 meter, di wilayah Tenjo, Bogor.

Subdrainase

Selain rumput yang tumbuh rapi dan terlihat cantik, aspek subdrainase pun tak kalah penting untuk menghindari munculnya genangan-genangan di permukaan lapangan, apalagi sampai banjir. Biasanya di Indonesia, untuk mengatasi persoalan saat hujan, sistem subdrainase menggunakan pipa-pipa bolong, yang dipasang di bawah permukaan untuk mengalirkan air ke pinggir lapangan untuk kemudian dibuang ke luar stadion.

Pipa-pipa dikelilingi koral dengan ukuran dan rancangan tertentu, kemudian diselubungi lagi oleh bahan khusus yang fungsinya agar pasir tidak masuk ke saluran drainase. Zaman dulu orang memakai ijuk.

"Saya biasanya membenamkan pipa-pipa berukuran 4 inci , dengan jarak 4 meter, di pasang dengan posisi melintangi lapangan," urainya. Lapangan pun memiliki kemiringan melintang, dari 0,5 persen-0,9 persen. Fungsinya juga untuk memperlancar aliran resapan air ke pembuangan di pinggir lapangan.

Keperluan resapan air ini juga disesuaikan dengan curah hujan yang biasa turun di daerah tersebut. Untuk ini, kadang-kadang diperlukan konsultasi dengan pihak BMKG. Sehingga, pembuatan drainase disesuaikan dengan kebutuhan.

Sistem pipa sebenarnya tergolong masih konvensional. Tapi sebenarnya selain itu, ada sistem portabel. Yaitu, media tanam ditempatkan pada wadah bertentuk kotak seukuran 1 meter persegi. Dengan ukuran lapangan sepakbola, wadah tersebut bisa berjumlah sekira 8.200 kotak.

Sistem itu lebih praktis. Karena bila lapangan akan dipakai untuk konser misalnya, kotak-kotak yang sudah bernomor, untuk memudahkan pemasangan ulang, tinggal dipindahkan. Begitu pun bila ada bagian yang rusak, seperti di depan gawang dan tengah lapangan, kotak-kotak itu tinggal diganti.

Sistem ini baru dipakai di sejumlah lapangan di Eropa, seperti milik Ajax Amsterdam."Di Indonesia belum ada yang menerapkan sistem ini. Padahal lebih praktis," kata Dedhi.
(fit)


source : http://bola.okezone.com/read/2013/09/10/419/863986/cantik-dan-empuk-ala-zoysia-matrella