Indra Sjafri: Tangan Tuhan Bicara

JAKARTA – Indonesia tampil sebagai kampiun di pentas Piala AFF U-19 usai mengalahkan tim kuat Vietnam melalui drama adu penalti. Gelar juara itu terasa istimewa karena merupakan yang pertama sejak 22 tahun terakhir.

Sorak sorai dari Sabang hingga Merauke pun menggema memberikan apresiasi dan merayakan keberhasilan Garuda Jaya mengharumkan nama bangsa. Bukan rahasia lagi jika Indonesia mendambakan prestasi seperti ini.

Salah satu orang yang paling berperan mempersembahkan gelar tersebut adalah Indra Sjafri, sang pelatih. Di sela-sela kesibukannya, Indra menyempatkan diri berkunjung ke Kantor Redaksi Okezone Selasa (24/9/2013) membagi pengalaman dan pandangannya. Berikut petikan wawancara dengan pelatih kelahiran Sumatra Barat itu.

Indonesia puasa gelar selama 22 tahun. Lalu Anda datang untuk Timnas U-19 dan memberi gelar juara ke Indonesia. Apa yang ingin Anda katakan tentang hal itu?

Pertama bersyukur kepada Allah. Apa yang kami rasakan tentunya dirasakan hampir semua orang di Indonesia. Masyarakat merasakan kebahagiaan, dan itu yang kami cita-citakan. Mulai berangkat dari hotel kami berdoa kepada Allah semoga kami bisa membahagiakan bangsa ini pada malam hari ini. Itu yang kita bilang ke pemain. Dan Alhamdulillah.

Itu sudah tangan tuhan yang bicara. Kami sudah berusaha memang. 45 menit pertama, kosong-kosong. 45 menit kedua tetap imbang. Pertambahan waktu masih kosong-kosong. Dan adu penalti pun sangat dramatis dan kita menang. Semua orang bersyukur, kita menunggu untuk gelar ini.

Dari awal turnamen yakin menang?

Kami mencanangkan pada Juni. Kami sudah punya tekad harus berikan yang terbaik kalau tidak kita kehilangan, dan harus dua tahun menunggu lagi. Sebelumnya untuk mencapai itu, kita mencari pemain yang betul-betul sesuai standar kami. Dan standar ada parameternya. Alhamdulillah yang terpilih memang yang pantas terpilih dan mereka anak-anak terbaik yang ada sekarang.

Persiapannya sudah cukup ideal, menurut anda hingga Indonesia bisa mendapatkan hasil maksimal?

Lamanya persiapan tergantung. Kalau pemain yang kualitas bagus tak perlu lama-lama. Makanya standar pemilihan awal yang kami pertinggi. Contoh pemain yang VO2Max -nya di bawah 50 kami tidak tolerir sama sekali. Tentu penilaian pertama yaitu skill, fisik, kecerdasan taktikal dan mental.

Dan semuanya Insya Allah serba terukur. Anak-anak yang terpilih kami bisa jelaskan kepada mereka, mengapa kami memilih mereka. Yang tidak, kami kembalikan ke klub dan kami beritahu apa yang perlu diperbaiki. Kami lakukan itu.

Ada perubahan permainan dalam dua kali menghadapi Vietnam. Di fase grup, tim terkesan bermain terburu-buru, sementara saat final, organisasi permainan tim lebih rapih. Apa yang anda lakukan?

Tentu kita dan Vietnam sama-sama sudah mengetahui cara bermain. Kami bersama tim teknis berkumpul membicarakan apa yang paling cocok untuk bermain dengan mereka. Apa yang harus dilakukan. Tapi sayang memang ada tiga pemain tidak dalam performa yang bagus, dan kita tidak bisa menang di 2x45 menit.

Selain Vietnam, Malaysia juga menyulitkan Indonesia. Apa catatan anda. Siapa yang paling sulit dilawan?

Yang paling menyulitkan untuk kami Vietnam. Malaysia sebenarnya sudah "terkubur". Kita main dengan minus empat pemain utama saja, kita sebenarnya bisa menguburkan mereka dengan gol yang banyak tapi Malaysia masih diselamatkan Tuhan.

Permainan tim meningkat dari laga ke laga berikut sampai final. Bisa bermain umpan dari kaki ke kaki dengan baik. Mungkin lebih baik dari senior-seniornya, secara kolektivitas...

Saya tidak mau membandingkan. Tentu pelatih satu dan yang lain punya filosofi berbeda. Saya punya filosofi sendiri dan tentu filosofi itu yang saya tularkan dan saya minta ke pemain. Dan saya cari pemain-pemain yang bisa memenuhi filosofi itu.

Memang apa formasi favorit anda?

Saya tradisional saja 4-3-3, dengan alasan negara yang sebesar ini orang bermain bola sampai di pelosok tapi orang tidak tahu 4-4-2 dll. Orang cuma tahu kanan luar, kiri luar, dan satu striker. Akibat itu, sumber winger kita bagus-bagus. Di senior ada Andik, Okto dan lain-lain.

Formasi, pola, bukan pelatih sebenarnya yang harus memaksakan, tapi pemain siap dulu. Kita punya pemain-pemain sayap yang baik. Kami diskusi dan saya putuskan kami bermain 4-3-3. Formasi ini enak dipelajari, jarak antar pemain dekat. Itu yang jadi alasan utama saya.

Kedua dari segi sejarah. Dari dulu Indonesia sukses dengan 4-3-3. Tapi kita mendengar ada 4-4-2 kita main mencoba 4-4-2, kadang mencoba 4-5-1 dll. Tapi 4-3-3 kan tidak format baku. 4-3-3 format atau skema awal, bisa berubah saat bermain. Hanya, formasi awal saya tetap menempatkan orang yang berkarakter 4-4-3.

Dan anda mencari pemain-pemain yang cocok untuk menerapkan formasi itu sampai ke pelosok-pelosok. Apa sebenarnya visi anda melakukan itu?

Satu, pengalaman saya saat masih bermain di Padang. Saat itu saya merasakan tidak mendapat kesempatan bagi kami di daerah. PSSI tidak mempunyai pemandu-pemandu yang sampai k ke daerah-daerah.

Pengalaman buruk saya kualifikasi Piala AFC 2010. Kami gagal masuk ke AFC, penyebabnya adalah pemain yang saya latih adalah pemain yang disodorkan dari para pengurus.

Dari dua alasan itu saya berpikir bagaimana mencari dan memberi kesempatan kepada anak-anak yang berpotensi di daerah.

Caranya yang paling ideal tentu menjaring melalui kompetisi. Tapi kan kita tidak bisa menunggu Federasi membikin kompetisi itu sementara saya harus segera menyusun tim yang kuat. Untuk itu, saya jalan ke daerah-daerah mencari pemain-pemain tersebut. Alhamdulillah banyak pemain daerah yang pantas diberi kesempatan membela negaranya.

Berbicara soal talenta, selama ini bagaimana kondisinya? Apa yang harus dikoreksi dan dibenahi dalam pembinaan untuk menghasilkan pemain bagus di masa depan?

Sebenarnya pembinaan usia muda sudah dilakukan tanpa federasi . Berbagai sponsor membuat kompetisi-kompetisi di usia muda. Tapi ini kan belum merata, hanya di kota besar. Berarti potensi daerah belum pernah tersentuh. Yang bagus kompetisi usia muda, itu mungkin nanti federasi apakah sudah punya konsep itu, dimulai dari tingkat daerah.

Untuk Piala Dunia usia muda kan dua tahun sekali. Alangkah baiknya Indonesia yang besar itu mengakomodir cara FIFA itu. Misalnya, tahun ganjil kita adakan kompetisi tingkat daerah, tahun genap baru tingkat nasional. Itu dilakukan dengan pengelompokan umur mengacu kepada regulasi FIFA.

Apa target selanjutnya untuk tim ini?

Tim ini belum maha hebat masih taraf belajar. Banyak pembenahan yang harus kita lakukan, dan kepada mereka saya kasih tahu, hati-hati pemain yang ingin jadi pemain internasional banyak. Sistem promosi dan degradasi selalu berlaku. Kalau ingin bertahan, harus waspada dan berlatih dengan baik kalau tidak mereka akan terdegradasi dengan pemain lain yang akan masuk.

Kualifikasi Piala Asia U-19 di depan mata, apa target untuk Evan Dimas dkk?

Kami belum bertemu khusus dengan pihak federasi untuk membicarakan apa yang menjadi target. Tapi saya sebagai pelatih punya target. Modal awal kami punya, Juara Piala AFF U-19. Dengan modal itu kami yakin kami bisa lolos kualifikasi Piala Asia.
(fit)


source : http://bola.okezone.com/read/2013/09/25/51/871618/indra-sjafri-tangan-tuhan-bicara