Ke "Langit" Benua Biru Berbekal Brosur

BRUSSELS – Segala hal yang nyata, takkan pernah seperti cerita di dongeng atau film. Ingin berhasil? Kuncinya cukup mainstream – yakni kerja keras dan pantang menyerah. Belgia melakoninya dan alhasil, perlahan tapi pasti mendaki jajaran elite yang terisi para dominator sepakbola dunia yang sudah lebih dulu melangit.
 
Generasi terbaik Belgia yang terakhir, terbilang habis, lebih dari satu dekade silam. Negara yang bertetangga dengan Belanda ini bak 'anak bawang' di antara sejumlah adidaya Eropa dan Amerika Latin macam Jerman, Inggris, Belanda, Spanyol, Prancis, Argentina dan pastinya Brasil. Adapun di level klub setali tiga uang.
 
"Klub-klub profesional kami gagal total. Level sepakbola dari tim nasional juga tak cukup bagus. kami tak bisa bersaing dengan negara-negara besar seperti Spanyol atau Prancis," ungkap direktur teknik Federasi Belgia, Michel Sablon.
 
Dari tangan Sablon inilah sepakbola Belgia berubah drastis. Caranya, dengan mengadakan pendekatan perihal pengembangan sepakbola atau ibaratnya, berguru kepada sejumlah negara tetangga yang lebih tinggi reputasi sepakbolanya.
 
Awalnya dari sebuah brosur, Sablon mempertemukan segenap stakeholder sepakbola Belgia. Memang, pada mulanya tak berjalan mulus. Tapi singkat cerita, proses "revitalisasi" sepakbola mereka membuahkan hasil setelah Sablon mencatat apa yang didapatnya dari sejumlah pertemuan itu dan terbentuklah sebuah blueprint yang kemudian dijadikan brosur.
 
Mau bukti? Lihat saja sejumlah pilar Rode Duivels yang digandeng sejumlah klub besar mulai Thibaut Courtois (Atl├ętico Madrid), Thomas Vermaelen (Arsenal), Jan Vertonghen (Tottenham Hotspur), Eden Hazard (Chelsea), Vincent Kompany (Manchester City) hingga yang terbaru, Marouane Fellaini (Manchester United). Timnas Belgia pun kini sukses menembus 10 besar peringkat FIFA.
 
"Pada 2002 silam, kami mulai melihat lebih dekat kepada Prancis serta Belanda dan menggelar sejumlah rapat dengan mereka, dua kali setahun. Kadang, kami bertemu dengan perwakilan Jerman juga dan mencoba mengembangkan apa yang kami lakukan. Saat itu kami bukan apa-apa," lanjutnya.
 
"Kami membuat sebuah brosur, atau lebih tepatnya terlihat seperti buku. Kami punya sekumpulan orang di meja pertemuan departemen teknik dan kami memutuskan membuat rencana untuk tiga target; pertama klub, kedua timnas dan ketiga pendidikan pelatih," imbuh Sablon.
 
"Kami meminta mereka bermain dengan formula 4-3-3 dengan winger dan tiga gelandang serta empat baris bek. Di masa lalu, permainan kami selalu dengan tiga bek, jadi hal ini baru untuk mereka. Butuh lima atau enam tahun sebelum mereka bisa menerimanyaawalnya sulit, tapi pada akhirnya mereka setuju kepada kami," tambah Sablon.
 
"Hasilnya sukses. Para pemain seperti Fellaini, Hazard, Vertonghen dan Vermaelen sudah mengindikasikan kebintangannya sejak usia 17 atau 18 tahun. Tapi saya tak ragu. Kami melakukannya dengan sistem pengembangan yang menjadikan mereka lebih baik. Membuat berhasil mereka seperti sekarang ini," sambungnya lagi.
 
Kini Belgia berada di 10 besar ranking FIFA dan berniat terus mendaki dan membayangi tim-tim besar itu, dengan niat mengubah budaya dan mental sepakbola mereka untuk tak mau kalah terhadap siapapun.
 
"Skotlandia masih membayangi Inggris. Tapi tahukah Anda? Itu yang membuat Inggris menjadi sasaran. Kami membandingkan diri kami di Belgia dengan yang terbaik saat ini. Dimulai dengan Spanyol dan Prancis. Kami bukanlah yang terbaik di dunia – tapi kami bekerja keras untuk berada di antara mereka," kata Sablon lagi.
 
"Kami tak ingin jadi yang terbuang. Tapi yang pasti kami takkan terduduk lagi dan prihatin terhadap diri sendiri. Kami menerapkan apa yang dilakukan Skotlandia – kami tampil habis-habisan dan memberi perlawanan hebat di lapangan," tuntasnya.
(raw)


source : http://bola.okezone.com/read/2013/09/05/51/861464/ke-langit-benua-biru-berbekal-brosur