Dari Kenangan Busby Babes Hingga Dilabeli "Judas"

LONDON – Lazimnya pelatih-pelatih veteran, Harry Redknapp tak kekurangan pengalaman manis-pahit menukangi sejumlah klub. Yang paling diingat, tentu pada masa transisi usai menukangi Portsmouth yang sayangnya, begitu getir dialaminya.
 
Ayah kandung mantan pemain Jamie Redknapp ini mengaku heran, mengapa atmosfer suporter dewasa ini, khususnya di Inggris, begitu berbeda saat dirinya masih 'nge-fans' berat dengan "Busby Babes" – sebutan Manchester United era 50an.
 
Redknapp mengaku prihatin lantaran pernah dicaci-maki habis-habisan, tak hanya oleh suporter, melainkan juga segenap kota Portsmouth saat dirinya hengkang ke Southampton, 2004 silam. Redknapp pun mengenang ketika para penggila bola masih saling menghormati satu sama lain, terutama ketika terjadi tragedi Munich yang merenggut sejumlah pemain dan staf pelatih United beserta sejumlah wartawan.
 
"Sungguh berbeda atmosfernya dari era dahulu. Saat itu, masih ada respek, di antara fans dan antara fans dengan pemain. Hal yang membuat saya muak adalah ketika Anda mendengar orang-orang zaman sekarang menyanyikan lagu tentang tragedi Munich," tutur Redknapp saat meluncurkan autobiografinya.
 
"Saya dulu biasa menyaksikan mereka – Duncan Edwards dan segenap tim United saat itu – betapa fantastisnya mereka. Tapi ketika saya mendengar lagu terkutuk itu dewasa ini, membuat saya benar-benar muak," lanjutnya, seperti dilansir DailyMail, Jumat (11/10/2013).
 
"Saya melihat pertandingan terakhir Busby Babes: 1 Februari 1958, mereka menang 5-4 dari Arsenal. Lalu lima hari berselang, kecelakaan itu terjadi. Seantero Inggris berduka. Semua orang terpaku dengan radionya, pagi, siang dan malam," imbuh Redknapp.
 
Tapi Redknapp tak lagi merasakan respek macam itu di masanya. Usai mengantarkan Portsmouth juara FA Cup, Redknapp mesti pindah lantaran terjadi friksi dengan pemilik klub, Milan Mandaric. Tapi fans The Pompey justru tak melihat langkah Redknapp itu sebagai langkah yang tepat. Bagi mereka cuma ada satu hal – jika tak bersama Portsmouth, maka semua orang jadi musuh.
 
"Saya tak mengerti mengapa sepakbola saat ini memburuk, dengan sorakan-sorakan tentang Hillsborough dan Munich. Mereka anak-anak Manchester tapi segenap negeri mendukung mereka. Fans dahulu kala saling berbagi. Anda mendatangi pertandingan dan Anda akan saling bicara dengan fans lawan, tak ada teriakan dan kekerasan," sambungnya.
 
"Musim 2004, saya ditunjukkan pintu keluar dari Portsmouth dan Southampton menawari saya kesempatan pindah. Setahu saya, tak ada yang salah dengan itu. Saya sendiri tak ingin pergi, tapi itu keputusan Mandaric yang ingin membawa pelatih lain. Tapi musim berikutnya saya melihat banyak spanduk bertuliskan 'JUDAS', 'BEDEBAH' dan kata-kata yang tak mengenakkan lainnya," tambah Redknapp.
 
Tak hanya di stadion, Redknapp yang saat itu masih tinggal di sekitar Portsmouth lantaran mantan klubnya dan Southampton – klub barunya, terletak tak jauh, Redknapp sering mendapat perlakuan buruk lainnya, terutama dari para nelayan yang sering melewati rumahnya di pinggir laut.
 
"Kami tinggal dekat laut dan banyak nelayan Portsmouth lewat rumah saya. Ketika saya keluar taman, saya bisa mendengar aksen yang khas mengatakan, 'Anda berengsek, Redknapp'. Begitulah di Portsmouth, jika Anda tak bersama mereka, Anda adalah musuh," tuntasnya.
(raw)


source : http://bola.okezone.com/read/2013/10/11/45/880504/dari-kenangan-busby-babes-hingga-dilabeli-judas