5 Dekade Dimusuhi Negeri Sendiri

TAK pernah ada dalam sejarah bagi seorang pesepakbola, meskipun melakoni tindakan kriminal, sampai harus menjalani "hukuman" selama lima dekade atau 50 tahun lamanya. Pun demikian bagi pelaku kejahatan hukum, terutama di Brasil yang sedianya, paling lama hanya 30 tahun.

Tapi, pengecualian menyasar pada seorang Moacyr Barbosa Nascimento. Goleiro (kiper) tim nasional Brasil era 50an yang selama lima dasawarsa merasa jadi "terhukum" walau tak menjalani hidup sampai ajal tiba di balik jeruji besi.

"Hukuman maksimal di Brasil adalah 30 tahun penjara. Tapi saya harus membayar sesuatu yang tak sepenuhnya jadi tanggung jawab saya, harus terhukum 50 tahun," tutur Barbosa sembari meringis jelang maut menjemputnya 13 tahun silam.

Bagaimana bisa seorang pesepakbola yang sedianya tenar dan terbilang punya kontribusi besar pada era keemasan Seleção di masa itu, bisa dianggap sebagai "Enemy of the State", musuh negara nomor satu di Brasil?

Jika dipikir-pikir dengan menilik sejarah sepakbola negara mana pun selain Brasil, rasa-rasanya tak ada seorang pemain pun yang bisa dimusuhi selama itu, ketika melakukan blunder yang merugikan negaranya. Barbosa-lah "The Only One", benar-benar "From Hero to Zero", jika tak ada ungkapan yang lebih buruk dari itu.

Mengantarkan awal cerita, Barbosa yang lahir dari rahim sang Ibu pada 27 Maret 1921, mulai serius menggeluti sepakbola sekira 70 tahun silam di tim muda ADCI-SP dan Ypiranga-SP. Karier profesionalnya pun tak lama membawanya ke Vasco da Gama, di mana kiper kulit hitam pertama Brasil ini memenangkan empat gelar Campeonato Carioca, serta satu gelar Campeonato Sul-Americano de Campeões.

Panggilan timnas Brasil pun menghampiri dan debutnya langsung menempatkannya ke bawah mistar utama Brasil mengusung gelar Copa America di negeri sendiri pada partai puncak – menghajar Paraguay, tujuh gol tanpa balas!

Berikutnya, Barbosa yang memang enggan memakai sarung tangan lantaran memilih merasakan sensasi sentuhan bola dari telapak tangannya sendiri, tak pernah tergantikan di skuad utama Brasil – hingga terjadi salah satu peristiwa paling dikenal dalam sejarah Piala Dunia – Maracañaço atau bencana (Stadion) Maracaña.

Pada Piala Dunia 1950 tahun silam, Brasil yang menjadi tuan rumah, jelas jadi favorit utama. Setelah melewati babak penyisihan Grup, tibalah Brasil di Grup Final (saat itu Piala Dunia belum berbentuk turnamen berformat knock-out usai penyisihan Grup), dan memimpin di puncak klasemen dengan mengangkangi Spanyol dan Swedia.

Di partai terakhir penentuan juara, mereka masih harus meladeni seteru mereka di masa itu, Uruguay. Brasil hanya butuh sebiji poin dari hasil imbang untuk mendaki podium juara, walau segenap rakyat Brasil tentu mengharapkan kemenangan demi kesempurnaan pesta mereka.

Ya, pesta. Jutaaan rakyat Brasil sudah sangat, amat siap untuk menyambut pesta juara yang mereka kira, hanya tinggal menunggu waktu – sekadar formalitas di laga terakhir kontra Uruguay. Asa itu pun kian meninggi saat Albino Friaça membuka keunggulan, 1-0 di menit ke-47.

Ratusan ribu suporter tuan rumah yang memadati Maracaña, tak henti-hentinya bersorak menanti pesta, kendati di menit ke-66, La Celeste menyamakan skor, 1-1 via gol Luis Alberto Schiaffino. Publik tuan rumah sama sekali tak terdiam lantaran 'pede abis' untuk mengira bahwa hasil laga terakhir ini takkan lebih buruk dari hasil imbang.

Tapi di menit ke-79, stadion Maracaña bak kuburan yang bahkan tanpa suara jangkrik. Sepi bagaikan stadion kelam yang menyimpan sejarah paling gelap buat Brasil. Di menit itulah Alcides Ghiggia yang men-dribble bola melewati beberapa bek Brasil, lalu mengelabui Barbossa yang sudah terlanjur keluar dari sarangnya.

Hingga waktu bubar, Uruguay tetap unggul dan perayaan mereka benar-benar hening! Brasil tenggelam dalam kekecewaan. Bahkan saking kecewa, Ketua Panitia lokal enggan menemani Presiden FIFA saat itu, Jules Rimet, untuk menyerahkan trofi untuk Uruguay di tangga juara.

Pesta di berbagai kota di Brasil urung digelar. Nada frustrasi dan ratapan terdengar di mana-mana dan entah dimulai dari mana atau siapa, Barbosa jadi sasaran tembak kambing hitam – walau gol kedua Uruguay tersebut tak sepenuhnya salah sang garda gawang.

Tak bisa digambarkan bagaimana hari-hari Barbosa berikutnya menghadapi cacian maupun hinaan dari berbagai orang yang ditemuinya ketika keluar rumah. Bahkan sering terdengar namanya disebut bak setan jahanam, saat para ibu ingin menakuti anak-anaknya ketika susah diatur.

Barbosa tak pernah kembali ke skuad Brasil lantaran takut jadi korban "bully" banyak orang. Meski begitu, kariernya di level klub tetap berjalan hingga 1962 dan ketika pensiun, CBF (PSSI-nya Brasil) menghadiahi tiang kayu asli dari stadion Maracana, untuk kemudian dibawa pulang Barbosa dan dibakarnya di belakang halaman rumahnya.

Barbosa pun kesulitan melanjutkan hidup usai tutup karier dan berbulan-bulan 'luntang-lantung' tanpa pekerjaan. Vasco da Gama, mantan klubnya, mengaku bersimpati dan sempat memberinya pekerjaan sebagai kepala kebersihan stadion sampai tubuhnya tak lagi kuat bekerja.

7 April 2000 lalu, Barbosa akhirnya wafat di Praia Grande. Barbosa tutup usia di umur 79 tahun setelah terkena serangan jantung – barulah Barbosa bagaikan "bebas dari hukuman" dengan melanjutkan perjalananannya abadinya.

Nélson Dida merupakan kiper kedua Brasil berkulit hitam setelah Barbosa dan ketika mendengar kabar duka tersebut, Dida menyiratkan permohonan kepada publik untuk memaafkan Barbosa yang selama 50 tahun, dianggap sebagai 'demit' atau wujud buruk rupa nasib sial di Brasil.

"Dia berjasa besar buat tim Brasil, tapi dia malah dikorbankan setelah pertandingan (Piala Dunia vs Uruguay) itu. Sungguh menyedihkan. Faktanya, dialah kiper nomor satu dan memperlihatkan kontribusi besarnya pada sepakbola Brasil. Penting untuk menunjukkan hal-hal positif yang sudah diperbuatnya untuk negara ini," papar Dida usai wafatnya Barbosa.
(raw)


source : http://bola.okezone.com/read/2013/11/01/419/890468/5-dekade-dimusuhi-negeri-sendiri